Jumat, 08 Mei 2015

Perbedaan Antara Bahan Baku Dan Bahan Baku Penolong

Pada perusahaan manufaktur atau industri, penggunaan bahan baku dan bahan penolong sudah pasti ada. Sebagian besar sumberdaya perusahaan teralokasi di kelompok ini. Transaksi didominasi oleh post “Bahan Baku (Raw Material)” dan “Bahan Penolong (Component)”.Bagi yang baru saja memasuki akuntansi untuk manufaktur, menentukan suatu pengeluaran dikelompokkan ke post BAHAN BAKU atau BAHAN PENOLONG, mungkin menjadi kesulitan tersendiri. Masalah serupa bahkan mungkin juga dialami oleh mereka yang sudah memiliki pengalaman di manufaktur tetapi baru saja memasuki sebuah perusahaan manufaktur yang menghasilkan produk berbeda dari perusahaan sebelumnya.

Untuk jenis industri perakitan, menentukan post bahan baku atau bahan penolong bukanlah suatu masalah.. Karena diantara kedua jenis post tersebut bisa dibedakan dengan mudah. Hal yang sama juga mungkin dialami oleh industri-industri yang memproduksi barang yang terbuat dari bahan baku tunggal. Misalnya : Pabrik tepung, pabrik semen, dll

Misalnya  perusahaan-perusahaan yang membuat produk yang item variance-nya banyak, dan menggunakan bahan baku & bahan penolong yang banyak macamnya pula. Menentukan suatu pengeluaran ke post Bahan Baku atau Bahan Penolong menjadi kesulitan tersendiri.

Contoh Kasus 1 :

Perusahaan Garment-A memproduksi pakian rajut (knitted garment), untuk berproduksi perusahaan membeli bahan-bahan sebagai berikut : kain, benang, kain keras, kain interlining, kancing, zipper (retsleting?), beads, sequin, polybag (kantong plastic), hang tag, label.
 
     Dapat di simpulkan bahwa: Bagi Garment-A (memproduksi pakaian rajut), tanpa benang, pakian rajut tidak akan jadi, dan benang menduduki porsi terbesar dalam penggunaannya. Maka benang tergolong bahan baku. Tanpa kain, barang masih bisa diselesaikan, kain hanya dibutuhkan untukmembuat aplikasi-aplikasi kecil (hiasan) yang akan menghiasi pakian rajut yang akan dihasilkan. Maka bagi Garment-A, kain dikelompokkan ke dalam bahan penolong, sequin, dan beads pun digolongkan ke dalam bahan penolong, karena tanpa sequin atau beads, pakian rajut masih tetap bisa menjadi pakian.
 
Untuk mengetahui lebih jelas, apakah suatu bahan tersebut tergolong bahan baku atau bahan penolong, hendaknya dilihat dari kedudukan fungsi (peranan) dari masing-masing bahan tersebut di dalam proses produksi.

Kriteria Bahan Baku :
(-) Dilihat dari fungsinya : jika tanpa bahan ini, barang tidak akan jadi atau tidak akan berfungsi samasekali.
(-) Dilihat dari porsi penggunaannya : Porsi penggunaan bahan ini dominant dibandingkan bahan yang lain.

Kriteria Bahan Penolong :
(-) Dilihat dari fungsinya : tanpa bahan ini, produk akan tetap bisa diselesaikan, hanya saja jadinya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan, atau fungsinya tidak sempurna.
(-) Dilihat dari porsi penggunaannya : bahan ini hanyalah porsi kecil dari keseluruhan bahan yang dipakai.

        Sehingga kita lebih mudah untuk  mengetahui apakah bahan baku tersebut tergolong dalam bahan baku atau bahan baku penolong,karena dari masing-masing bahan baku tersebut telah memiliki kriteria tersendiri.












Anggaran BOP

Perencanaan biaya yang baik harusnya dipusatkan pada hubungan antara tingkat pengeluaran dengan manfaat yang diperoleh dari pengeluaran tersebut. Anggaran biaya biasanya dibuat bersamaan dan digabungkan dalam sebuah rencana yang disebut Rencana Harga Pokok Produk. Anggaran ini memerlukan semua biaya produksi yang dapat diidentifikasi, baik secara langsung atau melalui alokasi, untuk setiap produk.

Tiga anggaran pokok yang relevan dengan produksi ini mencakup
   
        (1) anggaran biaya bahan mentah,
        (2) anggaran tenaga kerja langsung, yang merinci kuantitas dan biaya yang direncanakan                dari tenaga kerja langsung, dan
        (3) anggaran biaya overhead pabrik, yang meliputi rencana untuk semua biaya pabrik             
               selain bahan mentah langsung dan tenaga kerja langsung.

https://fc3c4fd5-a-62cb3a1a-s-sites.googlegroups.com/site/penganggaranperusahaan/anggaran-biaya-overhead-pabrik-bop/ANGGARAN%20BOP%20DAN%20ANGGARAN%20PRODUKSI.jpg?attachauth=ANoY7crTCE6q-7iLi_ILSRUZJ2659ipHbDV5971ezVRxQ42jrGo6jjDhryLpeDP0su8IWiJ2MV-f9tMbSeJ12HNeUYCP3lvhky_56VwhOPyPEmGRwFfhFVIRLgKzGMZ6HDr3Uhs2v7uiHVaRVranQHSgPMGJ68pEa0jvWYEBz-WM-pVoSKZKJQslxisy-3bdd3RruG6GplGZoOSujRjfq72UEvBAEXT0YrmabKasU5VuX0YSnnj_-YhcIvVeM1rgVQ1NTsucZmSoEpvP60dPwLK4W0Yl4Dmaj0MUY4cXzK-nr2ccu6pRE-r6BRItFurAnGGVuRJlsWzk&attredirects=0
Biaya overhead adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Adapun biaya-biaya yang termasuk dalam biaya overhead pabrik dikelompokkan menjadi beberapa golongan sebagai berikut:
1. Biaya depresiasi, semua aktiva tetap (kecuali tanah) yang dimiliki dan digunakan oleh perusahaan.
2. Biaya reparasi dan pemeliharaan berupa biaya suku cadang, biaya bahan habis pakai dan harga perolehan jasa dari pihak luar perusahaan.
3. Biaya listrik, biaya overhead ini merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak luar dalam proses pembayaran.
4. Biaya kesejahteraan karyawan
5. Biaya bank, adalah biaya atau bagian dari kewajiban perusahaan kepada pihak luar dan biaya itu sendiri bukan merupakan bagian integral dari produksi.
6. Biaya pengelolaan limbah
7. Biaya training dan transportasi, merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produksi.
8. Biaya asuransi

Ditinjau dari perilaku unsur-unsur biaya overhead pabrik dalam hubungan dengan perubahan volume kegiatan, biaya overhead pabrik dapat dibagi menjadi tiga golongan:

  1. > Biaya overhead pabrik tetap yaitu biaya overhead pabrik yang tidak berubah dalam volume kegiatan tertentu.
  2. > Biaya overhead pabrik variabel dalah biaya overhead pabrik yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
  3. > Biaya overhead pabrik semi variabel yaitu biaya overhead pabrik yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.



Ditinjau dari perilaku unsur-unsur biaya overhead pabrik dalam hubungan dengan perubahan volume kegiatan, biaya overhead pabrik dapat dibagi menjadi tiga golongan:

> Biaya overhead pabrik tetap yaitu biaya overhead pabrik yang tidak berubah dalam volume kegiatan tertentu.

> Biaya overhead pabrik variabel dalah biaya overhead pabrik yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

> Biaya overhead pabrik semi variabel yaitu biaya overhead pabrik yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
Langkah-langkah penentuan tarif bop per departemen
Ø  Penyusunan anggaran BOP per departemen
Ø  Alokasi BOP departemen pembantu ke departemen  produksi
Ø  Perhitungan tarif pembebanan BOP per departemen
Penyusunan anggaran BOP per departemen di bagi menjadi 4 tahap di antaranya sebagai berikut:
a)      Penaksiran BOP langsung departemen atas dasar kapasitas yang di rencanakan untuk tahun anggaran.
b)      Penaksiran BOP ta langsung departemen
c)       Distribusi BOP ta langsung departemen ke departemen yang menikmatinya
d)      Menjumlah seluruh BOP per departemen untuk mendapatkan BOP per departemen
Alokasi BOP departemen pembantu ke departemen ke departemen produksi
J  Metode alokasi langsung (direct allocation method)
J  Metode alokasi bertahap (step method)
J  Metode alokasi yang memperhitungkan jasa timbal balik antar departemen pembantu:
a.       Metode alokasi kontinyu
b.      Metode aljabar
J  Metode alokasi yang tidak memperhitungkan trasfer jasa timbal balik antar departemen pembantu:
a.       Metode urutan alokasi yang di atur


contoh,kasus



Bila jenis BOP diketahui, misalnya :
          Biaya bahan penolong Rp. 1.500.000
          Biaya penyusutan gedung pabrik Rp. 4.000.000
          Biaya penyusutan mesin Rp. 3.500.000  dan   Biaya asuransi pabrik Rp. 2.000.000 





Pembebanan BOP sesungguhnya kepada produk
Misal , BOP dibebankan kepada produk dengan tarif 105% dari biaya tenaga kerja langsung, dimana besarnya tenaga kerja langsung adalah Rp. 10.000.000, maka jurnalnya :

 



BOP dibebankan = 105% X BTKL = 105% x Rp. 10.000.000 = Rp. 10.500.000